Skemanews.com, Pohuwato – Desa Bulangita, Kecamatan Marisa, seakan berubah wajah. Sungai yang dahulu menjadi nadi kehidupan warga kini tertutup endapan lumpur pekat, sisa dari aktivitas pertambangan yang semakin tak terkendali. Minggu (31/8/2025), Panitia Khusus (Pansus) Pertambangan DPRD Provinsi Gorontalo turun langsung meninjau lokasi, menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana tambang telah meninggalkan jejak luka di tanah itu.
Dipimpin pimpinan DPRD bersama anggota Pansus, kunjungan tersebut menjadi alarm keras bahwa Gorontalo sedang menghadapi ancaman ekologis serius. Wakil Ketua DPRD Provinsi Gorontalo, Ridwan Monoarfa, tak bisa menyembunyikan keprihatinannya.
“Apakah kita akan membiarkan kerusakan ini terus berlangsung? Sungai mati, tanah hancur, dan masyarakat jadi korban? Penambangan boleh saja dilakukan, tapi tanpa kesadaran dan tanggung jawab, semua ini hanya menimbulkan penderitaan,” tegas Ridwan dengan suara bergetar menahan amarah.
Ia menuding, para penambang terlalu mudah mengabaikan kewajiban mereka. Lubang-lubang bekas galian dibiarkan menganga, hutan ditebang, sungai tertimbun sedimen.
“Apakah mereka tahu bagaimana cara merehabilitasi kerusakan? Atau semua ini akan diwariskan sebagai bom waktu bagi anak-cucu kita?” sergahnya.
Menurut Ridwan, tambang ilegal dan tambang tanpa aturan lingkungan bukan sekadar masalah hukum, melainkan ancaman langsung terhadap keberlanjutan hidup masyarakat. Jika situasi ini dibiarkan, kata dia, bencana ekologis hanyalah soal waktu.
Pansus Pertambangan menegaskan bahwa penyelesaian tidak bisa hanya bertumpu pada DPRD. Pemerintah daerah, aparat penegak hukum, hingga masyarakat harus terlibat menciptakan tata kelola tambang yang lebih manusiawi dan berkelanjutan. Manfaat ekonomi harus sejalan dengan keselamatan lingkungan.
“Pertambangan bisa jadi berkah, tapi kalau dijalankan brutal, itu bukan lagi sumber penghidupan, melainkan kutukan bagi Gorontalo,” tutup Ridwan.
Kunjungan ke Bulangita kali ini tidak sekadar agenda formal DPRD, tetapi momentum untuk membongkar praktik tambang yang penuh masalah. Jika rekomendasi Pansus diabaikan, bukan tidak mungkin Gorontalo akan dikenal bukan karena emasnya, melainkan karena bencana yang diwarisinya.



















